Senin, 19 Oktober 2015

1 Tahun Kepergian Ayah

Setahun sudah ayah meninggalkanku pergi, jujur dari hati aku sangat merindukannya kasih sayang ayah yang takkan pernah terbalaskan. Pengorbanan untuk anak-anaknya kesabaran yang luar biasa menghadapi tingkah dan sikap istri dan kelakuan anak-anaknya yang masing-masing memiliki pribadi yang berbeda. Ayah aku teringat tanda kepergianmu, saat-saat kepergianmu. Sebelumnya ayah mungkib ungkapan terima kasih dan sayang ini tak cukup ku utarakan doa di setiap sujud. Karna begitu besar cinta dan sayangku padamu ayah. Banyak impian-impian yang akan kita wujudkan bersama. Sejujurnya tiadamu ayah bagai patahkan kedua sayapku. Aku ibarat burung yang ingin terbang tinggi kemudian takkan pernah bisa ayah... kepakkan sayap ini takkan mampu lagi untuk terbang jauh tiadamu.
Ayah...
Saat kematianmu setahun yang lalu menggetarkanku bagimana bisa orang menghantarkan jenazahmu berderet di sepanjang jalan jumat itu. Terharu berbangga padamu ayah, selama engkau hidup banyak waktu dan pikiranmu kau prioritaskan untuk ummat. Ayah ingin ku menjerit kala itu betapa aku takkan pernah menyesal menjadi anakmu. Terima kasih Tuhan engkau temukan aku dengan Ayahku hidup bersama denganya.
Aku tak habis pikir dengan takdirMu Tuhan. Bagaimana indah kau ukir sekenario hidupku ini. Di saat aku menyadari bagaimana rasa kehilangan itu, engkau tetap membuatku kuat tanpa meneteskan air mata.
Ayah tahukah engkau di saat engkau memelukku dan engkaupun menangis kala itu aku merasakan dekapan hangat yang mengisyaratkan aku, kau akan meninggalkanku untuk selama-lamanya terakhir wisudaku itu yang engkau lakukan. Tak berbilang pengorbanan dan doa-doamu selama hidupmu ayah.
Ingatkanku sesaat sakitmu mengerang pilu, pesan terakhirmu, dan saat engkau berbaring tetap wudhu yang engkau minta agar engkau menghadap Rabb Mu dalam keadaan suci. Di disitu aku gemetar ayah... takkan bisa di sisa umurku mengingat hal yang begitu penting engkau menyiapkan diri untuk kembali kepada Ilahi.
Ayah aku berjanji.
Selamanya aku akan menjaga dan melindungi ibu karna aku sangat menyayangimu. Memang saat ini tak ada lagi tempat tertawa dan mendengarkan ceritamu sesaat muda dulu. Menemanimu makan di meja makan, menciummu diam-diam saat engkau lagi tidur bersama ibu. Memang tiada lagi rutinitas itu. Tapi yakinlah ayah...
Doa untukmu takkan pernah putus, aku akan mengikuti perjuangamu dalam mengayumi orang lain. Bersikap lembut, menentramkan hati, bermanfaat bagi orang banyak, dan mencintai Allah. Tak hanya engkau butuh namun hadirkan Allah di setiap aktifitasmu. Ayah ujarmu kala itu ku jadikan bingkisan yang indah di akhir nanti. Semoga kita di pertemukan di surga bersama selamanya. Aku berjuang untuk mendapatkan surga itu ayah. Tunggu aku.
(Putih, jumat, 31 oktober 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar