Entah sampai kapan harus menahan sabar ini. Tetapi sabar memang tiada batas. Hanya saja hati dan pikiran lah yang dapat memberi peringatan untuk menahan amarah.
Sangat lama aku menahan sabar mungkin 8 tahun ini. Walaupun ku pendam sendiri tetapi akan ada saja objek/sesuatu yang jadi pelampiasan amarah.
Memang Tuhan memberikan hikmah di setiap ujian dan tantangan yang harus kita coba dan kita nikmati walaupun sulit, perih, menderita, penuh kesengsaraan, tak jarang merlumur darah bahkan air mata. Tetapi akan ada masa kita bahagia, tersenyum, tertawa, bercanda ria, menikmati hari dengan lepas dan tanpa beban. Semua itu pastilah beriringan. Takkan mungkin Tuhan menghadirkan perbedaan Siang dan Malam, hidup dan mati, Mudah dan sulit. Semua itu pasti beriringan dan takkan pernah pisah. Aku makin yakin Tuhan akan mengindahkan kehidupanku ini. Walaupun sekarang kesabaranku kadang tak menentu.
Ya Tuhanku...
Sejujurnya aku sangat menyayangi dia lebih dari apapun aku akan selalu menjaganya. Ku mohon kembalikanlah ia seperti ia menyayangi dan kembali mencintai aku dan harmonis kembali.
Aku sedih melihatnya seperti ini...
Tak tega dengan semua takdir hidupku, biar tak ada yang begini aku belum siap menerima kenyataan ini.
Tetapi aku hanya bisa menghindar dari semua ini, tak dapat ku ungkapkan lagi tragedi yang terus terulang kembali hari demi hari ini.
Lelah tak ujung usah!
Kalau terhitung dosa mungkin terlalu banyak diri ini untuk hal itu. Tetapi dengan memahaminya pun aku tak kuasa lagi, mengerti ia pun tak jadi acuhan lagi. Biarlah hal itu terus terulang kembali sampai batas waktu. Lelah itu akan berganti. Hal yang indah di inginkan, semoga Tuhan tahu aku selalu mendoakannya walau sakitku ini belum tentu sesakit ia menyayangiku seumurku ini. Tetap aku ingin ia kembali dan menyayangiku.
(Mom, 2 Januari 2009)
Selasa, 20 Oktober 2015
Kembali Menahan Perih
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar